Selasa, 15 April 2014
Tuliskan dan tapsirkan lagu pop indonesia yang menuliskan tentang indonesia, Apa yang anda rencanakan ketika menjadi Caleg, Tuliskan tanggapan dan cari jalan keluar tentang Lokalisasi
Nama : Otong Irwan
NPM : 25412613
KLS : 2IC01
LIRIK DAN TAFSIRAN LAGU
INDONESIA JAYA
indonesia tanah kelahiranku
yang indah permai kebanggaanku
disini ku berdiri
ikrarkan janji olehmu negeriku
suci nan abadi
negeri jayalah bangsaku slalu
engkaulah yang kucinta
segenggam harapan sejuta mimpi
ingin ku abdikan padamu negriku
adil makmur untukmu indonesia
jayalah negriku bangkitlah bangsaku
angkatlah panjimu satukalah mimpimu
yang tak akan padam menggapai cita
adil dan makmur sejahtera indonesia
jayalah negriku bangkitlah bangsaku
angkatlah panjimu satukalah mimpimu
yang tak akan padam menggapai cita
adil dan makmur sejahtera indonesia
jayalah negriku bangkitlah bangsaku
angkatlah panjimu satukalah mimpimu
yang tak akan padam menggapai cita
adil dan makmur sejahtera indonesia
Jadi makna dari lagu di atas adalah seorang pribumi yang sangat bangga, cinta, yang selalu berharap dan akan senantiasa mengabdikan kehidupannya untuk bangsa dan negara Indonesia ini. seperti yang terdapat dalam lirik diatas bahwa lagu ini menceritakan kita sebagai warga negara (pemuda-pemudi) indonesia akan selalu mengharapkan agar Indonesia selalu makmur,adil,dan jaya. kemudian juga di kisahkan bahwa "indonesia" ini memiliki semangat yang besar dalam menggapai citanya, yang tentunya akan dapat terwujud jika pemuda-pemudi Indonesia mau bekerja keras dalam memperbaiki (terutama diri sendiri) bangsa dan negara. :D
(wasalam saya Otong Irwan mahasiswa Gunadarma).
PROGRAM JIKA SAYA MENJADI CALEG
Bila saya di angkat atau menjadi caleg, hal yang pertama-tama akan saya programkan adalah sebagai berikut:
Bidang Hukum
Seperti yang dapat kita saksikan saat ini masih sangat minimnya ketegasan hukum yang berlaku kepada seseorang yang melakukan tindak criminal,yang paling hangat saat ini adalah tindak pidana korupsi. Seseorang yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi harusnya di hukum seberat-beratnya karena sudah menelantarkan amanah sebagai pejabat Negara yang di percaya oleh bangsa serta mengorbankan jutaan rakyat yang membutuhkan. Kemudian tak jarang pula kita saksikan justru amanat yang meniadakan hak asasi manusia bagi rakyat Indonesia,hal ini sudah sering sekali terjadi kesalahan yang justru dilakukan oleh oknum polisi yang melakukan penganiayaan terhadap tahanan,dan banyak hal lainnya. Menurut saya hukum tidak boleh pandang bulu,dan harus diberlakukan secara adil kepada siapapun yang melakukan kejahatan dan harus diberikan sesuai kejahatan yang dilakukan oleh seseorang.
Bidang Kesejahteraan
Negara Indonesia ini sangat luas maka tidak mustahil bahwa kemajuan teknologi hanya berkembang pesat di pusat-pusat kota saja,sebut saja listrik,tidak seluruh desa di Indonesia mendapatkan penerangan, maka itu salah satu program saya adalah menerangi seluruh pelosok desa yang tidak tersentuh oleh listrik. Kekayaan alam yang melimpah harus kita manfaatkan,jika tidak pembangkit angin,kita punya air, dengan kecanggihan teknologi saat ini maka tidak ada yang mustahil dengan hal ini hanya saja pemerintah masih belum sepenuhnya memperhatikan kebutuhan rakyatnya. Selain listrik,saya akan mengemukakan agar masyarakat dapat membentuk kelompok tani yang selanjutnya dapat kita lakukan pembekalan secara teratur kepada masyarakat tani tersebut,ini sebenearnya bukan sesuatu hal yang baru hanya saja mungkin belum seluruh rakyat desa di Indonesia memiliki kelompok tani serta pembekalan ilmu nya pun belum maksimal,maka itu saya akan lebih memperhatikan lagi.
Bidang Agama
Indonesia terkenal sejak dahulu kala dengan keramahan masyarakatnya,serta senantiasa mampu bertoleransi dan bekerjasama,namun seiring berjalannya waktu hal ini mulai memudar dalam jiwa masyarakat Indonesia. Seseorang harus memiliki rasa aman dalam beribadah maka itu kita harus mengutamakan keselamatan dan keamanan bagi pemeluk agama di Indonesia. Seseorang wajib memiliki rasa toleransi terhadap sesama.
Diposkan oleh Otong Irwan.
Lokalisasi
Dua Pemimpin Jempol : Sayang Wagiman Tidak Sekondang Jokowi
Kekuatan media memang dahsyat. Dalam waktu tidak terlampau lama, semenjak mencalonkan diri menjadi Cagub DKI Jakarta, Jokowi menjadi pusat perhatian, pusat pemberitaan. Sangat “Media Darling”. Apapun yang dilakukan Jokowi selalu menjadi sorotan. Kemanapun Jokowi pergi, selalu ada yang mengikuti, menguntit, lalu memberitakan. Kekondangan seorang Jokowi sangat fenomenal. Bahkan terus digadang-gadang supaya mau nyapres. Bagaimana dengan Wagiman? Beliau juga sosok pemimpin yang bagus. Hanya sayang tidak sekondang Jokowi. Tidak seterkenal maupun sefenomenal Jokowi. Padahal keduanya merupakan sosok pemimpin yang layak mendapat pujian, layak disematkan bintang. Wagiman pun punya prestasi.
“Siapa itu Wagiman? Kok bisa-bisanya dibanding-bandingkan dengan Jokowi? Apa hebatnya Wagiman? Apa prestasinya? Mana hasil karyanya?” Jika masih mau tahu, masih penasaran, silakan simak tulisan selanjutnya.
Ini kali kedua menulis tentang Wagiman di Kompasiana. Sebelumnya, pernah menulis tentang sosok Wagiman di sini. Saya yakin, masih belum banyak yang mengenal sosok Wagiman. “Siapa beliau?” Bagi yang belum mengenal sosok Wagiman, baiklah. Wagiman adalah julukan yang dipersembahkan tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum pada Tri Rismaharini atau lebih dikenal dengan panggilan Ibu Risma. Mungkin belum banyak yang mengenal sosok Tri Rismaharini. Beliau tidak seterkenal Jokowi, yang namanya sudah berskala Nasional. Beliau adalah sosok wanita pertama yang menyandang gelar Walikota Surabaya. “Lalu apa hubungannya dengan Wagiman? Saudaranyakah?”
Tri Rismaharini, Walikota Surabaya.
Tri Rismaharini inilah yang dikenal sebagai Wagiman. Beliau mendapatkan julukan WAGIMAN, Walikota Gila Taman. Tersinggungkah beliau dengan julukan tersebut? Harusnya tidak perlu. Sepatutnya beliau bangga. Saat ini, beliau berdampingan dengan mantan walikota Surabaya sebelumnya, yaitu Bambang Dwi Hartono, memimpin komando sebagai Walikota Surabaya dan Wakil Walikota Surabaya. Sebelum menjabat sebagai Walikota Surabaya, beliau pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko). Beliaulah dalang yang bertanggung jawab atas bersih, hijau, dan asrinya Kota Surabaya. Beliau bertekad untuk menjadikan Surabaya sebagai Kota Sejuta Taman dan itu tampaknya telah menunjukkan hasil. Kota Surabaya tercatat berhasil meraih Piala Adipura tahun 2011. Beliau juga ternyata pernah menjadi salah satu nominasi Walikota terbaik di dunia tahun 2012 melalui “2012 World Mayor Prize” yang diselenggarakan oleh The City Mayors. World Mayor Prize merupakan penghargaan yang diberikan atas prestasi yang dicapai oleh walikota dalam memajukan kota yang dipimpinnya. Beliau dinilai berhasil menata Kota Surabaya menjadi kota yang bersih dan tentunya penuh dengan taman.
Ternyata beliau tidak hanya berprestasi di bidang pertamanan. Ada banyak prestasi lainnya. Jika Jokowi memiliki jurus blusukan andalannya, Bu Risma pun melakukan hal yang sama dan itu bukan karena syndrome Jokowi. Blusukannya telah dilakukan sejak lama, sejak masih menjadi Kepala Dinas Pertamanan Surabaya. Kebiasaan itu masih tetap langgeng hingga kini. Bahkan kerap membuat warga terheran. Bu Risma yang notabene seorang wanita, bisa keluar jam dua belas malam dan turut menyapu jalan. Namun, karena tidak sekondang Jokowi, aksinya tidak terendus media.
Jika Jokowi telah menunjukkan keberhasilannya di Pasar Tanah Abang, Bu Risma pun telah merambah penataan pasar di Surabaya. Beberapa pasar telah menjadi bukti jamahan tangannya. Pasar yang dulunya tidak tertata dan terkesan semrawut, kini tertata apik. Penataan kaki lima pun tidak luput dari sentuhannya. PKL yang dulunya tersebar di pinggir-pinggir jalan dan mengganggu lalu lintas, perlahan mulai dibenahi dan diberikan tempat di dalam gedung yang mirip mall. Masih banyak lagi hasil karya Bu Risma lainnya. Revitalisasi waduk yang tengah dilakukan Jokowi pun ternyata dilakukan Bu Risma di Surabaya. Juga revitalisasi sungai, pembersihan gorong-gorong, dan pembersihan sampah-sampah di sungai. Hasilnya? Surabaya sedikit lega karena tidak terkena banjir.
Baru-baru ini terdengar kabar, seperti diberitakan di media tempo, Bu Risma berkehendak dan bertekad untuk menghapus lokalisasi di Surabaya. Setelah menutup lokalisasi di Klakah Rejo, Benowo, beliau bertekad untuk menutup lokalisasi lainnya. Bertekad untuk menutup lokalisasi Tambak Asri, juga lokalisasi yang terkenal, Dolly di Putat Jaya. Tanpa gentar, beliau menghadapi para pendemo yang menentang penutupan lokalisasi. Menemui para pendemo yang adalah para pekerja seks komersial (PSK) dan mucikari. Wow…! Sungguh berani.
Para pendemo seperti biasa, membawa tulisan-tulisan yang intinya menolak penutupan lokalisasi. Mereka menganggap Pemkot Surabaya telah bertindak otoriter. Saat berdemo, mereka berusaha untuk mendekati Walikotanya. “Dan apa yang dilakukan Bu RIsma?” Beliau malah merebut salah satu poster yang mereka bawa, dan mengatakan, “Ini apa-apa ini, mau dibantu kok tidak mau”. Beliau mengatakan lebih lanjut, “Apapun rintangannya, akan saya hadapi, dan akan terus saya tutup. Wow…lagi.
Bu Risma memiliki kiat andalan, yaitu sikap tegas dan berani. Walau seorang wanita, beliau berani dan tegas menghadapi segala macam permasalahan, tantangan, dan kendala yang dihadapi. Pada prinsipnya, sepanjang masih di rel kebenaran dan demi masa depan warga, beliau tidak akan gentar, tidak akan ciut nyalinya.
Saya tidak hanya bermaksud membanding-bandingkan antara Wagiman dan Jokowi. Poinnya adalah, ternyata Indonesia masih memiliki secercah harapan. Masih memiliki sebersit asa di tengah galaunya Indonesia. Indonesia masih dapat menggantungkan harapan di atas pundak para pemimpin yang memimpin tidak hanya dengan kekuatannya, tapi juga dengan hati yang bersih dan tekad yang tulus. Semoga ke depan, masih dapat ditemukan Jokowi-Jokowi lain, Wagiman-wagiman lainnya. Pray for Indonesia. Semangat. Salam.
http://www.tempo.co/read/news/2013/08/25/058507284/Tutup-Lokalisai-Risma-Bentrok-dengan-PSK
Minggu, 23 Maret 2014
Mendeskripsikan Tentang ( Kembalikan Indonesiaku ke Indonesia, Pahlawan Nasional Indonesia, Tokoh Wayang Indonesia, dan Bunga Lambang Provinsi).
Nama : Otong Irwan
NPM
: 25412613
KLS
: 2IC01
KEMBALIKAN INDONESIAKU!
Otong Irwan | Senin, 24 maret 2014 - 08:30:25 WIB
Mari kita kobarkan kembali rasa
cinta tanah air, rela berkorban, rasa senasib sepenanggungan, semangat
persatuan dan kesatuan, dan menjadikan kemajemukan kita sebagai kekuatan.
Bangsa Indonesia akan memperingati
hari kemerdekaannya yang ke-67. Dalam kesempatan bersejarah ini, perlu bagi
kita untuk merenung dan menilai secara jujur sudah sampai manakah
pencapaian kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara?
Pertanyaan lainnya adalah, apakah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sudah mampu melaksanakan tujuan pembentukan negara seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa kita? Apakah segenap rakyat Indonesia sudah merasakan manfaat dari penyerahan kebebasan mereka untuk diatur negara ini dan merasakan keadaan yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karta raharja?
Pasti ada sisi terang, walaupun tidak kurang sisi kelam yang membayangi perjalanan hidup Indonesia. Sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia yang demokratis, Indonesia sudah menjadi anggota G-20. Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia sudah hampir mencapai satu triliun dolar AS. Rasio utang Indonesia terhadap PDB sebesar 25 persen, cadangan devisa 114, 502 miliar dolar AS dan defisit publik kurang dari 2 persen terhadap PDB menunjukkan kekuatan dan stabilitas ekonomi Indonesia pada 2011.
Selama tujuh tahun terakhir, angka kemiskinan di Indonesia terus menurun dari 36,1 juta orang atau 16,66 persen dari total penduduk pada Februari 2004 menjadi 29,9 juta orang atau 12,36 persen dari total penduduk pada September 2011. Pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun terakhir selalu berkisar di atas 6 persen. Kondisi ekonomi makro yang stabil dan sehat, tetapi apakah segala keberhasilan yang dicapai benar-benar sudah memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat?
Nyatanya, kita masih merasakan bayang-bayang gelap yang menghantui. Rasanya kita belum benar-benar eksis sebagai sebuah negara yang berdaulat. Masih banyak persoalan kebangsaan yang harus kita tangani secara komprehensif dengan semangat kebersamaan bila kita tidak ingin menjadi negara gagal seperti hasil penelitian organisasi nirlaba Foreign Policy and Fund for Peace. Indonesia berada di nomor urut 63, lebih buruk dari 2011 yang berada di urutan 64. Daripada berdebat tentang apakah Indonesia memang negara gagal, mari kita jadikan Failed States Index (FSI) tersebut sebagai pemicu untuk mengoreksi kekeliruan.
Pertanyaan lainnya adalah, apakah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sudah mampu melaksanakan tujuan pembentukan negara seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa kita? Apakah segenap rakyat Indonesia sudah merasakan manfaat dari penyerahan kebebasan mereka untuk diatur negara ini dan merasakan keadaan yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karta raharja?
Pasti ada sisi terang, walaupun tidak kurang sisi kelam yang membayangi perjalanan hidup Indonesia. Sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia yang demokratis, Indonesia sudah menjadi anggota G-20. Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia sudah hampir mencapai satu triliun dolar AS. Rasio utang Indonesia terhadap PDB sebesar 25 persen, cadangan devisa 114, 502 miliar dolar AS dan defisit publik kurang dari 2 persen terhadap PDB menunjukkan kekuatan dan stabilitas ekonomi Indonesia pada 2011.
Selama tujuh tahun terakhir, angka kemiskinan di Indonesia terus menurun dari 36,1 juta orang atau 16,66 persen dari total penduduk pada Februari 2004 menjadi 29,9 juta orang atau 12,36 persen dari total penduduk pada September 2011. Pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun terakhir selalu berkisar di atas 6 persen. Kondisi ekonomi makro yang stabil dan sehat, tetapi apakah segala keberhasilan yang dicapai benar-benar sudah memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat?
Nyatanya, kita masih merasakan bayang-bayang gelap yang menghantui. Rasanya kita belum benar-benar eksis sebagai sebuah negara yang berdaulat. Masih banyak persoalan kebangsaan yang harus kita tangani secara komprehensif dengan semangat kebersamaan bila kita tidak ingin menjadi negara gagal seperti hasil penelitian organisasi nirlaba Foreign Policy and Fund for Peace. Indonesia berada di nomor urut 63, lebih buruk dari 2011 yang berada di urutan 64. Daripada berdebat tentang apakah Indonesia memang negara gagal, mari kita jadikan Failed States Index (FSI) tersebut sebagai pemicu untuk mengoreksi kekeliruan.
Demokrasi Bukan Tujuan
Rasanya, kekeliruan kita yang utama adalah menempatkan demokrasi sebagai tujuan, padahal itu hanya cara untuk mengejar cita-cita nasional. Akibatnya, politik kita jadikan panglima. Masih pula perlu kita pertanyakan kesesuaian sistem kenegaraan kita saat ini dengan falsafah Pancasila. Rasanya Pancasila sudah kita lupakan dan buang jauh-jauh dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Bagaimana tidak, setelah empat kali perubahan Undang-Undang Dasar 1945, kita justru menafikan golongan minoritas. Bila dahulu MPR masih menampung aspirasi kelompok minoritas dalam bentuk utusan golongan, sekarang hanya ada perwakilan rakyat yang dipilih mewakili partai dan mewakili daerah. Dikhawatirkan terjadi tirani mayoritas, hilangnya hak kaum minoritas.
Dalam aspek ekonomi, kita pertanyakan kedaulatan kita sebagai bangsa. Kita sudah melenceng dari amanat BAB XIV Pasal 33 UUD 1945 yang mengatur bahwa: perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan; cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kenyataannya justru banyak aset ekonomi dan strategik kita yang dikuasai asing semisal telekomunikasi, perbankan, pertambangan dan energi. Dalam hal pangan pun kita belum mampu berswasembada apalagi berdaulat.
Tengoklah di sektor perbankan, misalnya, penguasaan aset perbankan nasional oleh bank milik negara dan swasta nasional kian menyusut, digantikan penguasaan aset oleh bank milik asing yang meningkat tajam dan mendominasi. Kepemilikan asing di bank-bank tumbuh menjadi 21 persen di 2011. Aset bank swasta nasional yang dimiliki lokal terus merosot dari 42 persen di 1998 ke-22 persen pada 2011, sedangkan aset bank BUMN terus tergerus dari 44 persen pada 1998 menjadi 35 persen di 2011. Apabila ditotal dengan kantor cabang bank asing dan bank campuran, maka total pangsa pasar bank milik asing di Indonesia sudah mencapai 34 persen (Koran Jakarta, 26 Juli 2012).
Mari kita menyimak ayat 4 Pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”. Tapi apa kenyataannya?
Kita justru melihat tingkat kesenjangan yang semakin tinggi. Data Rasio Gini yang merupakan ukuran ketimpangan pendapatan Indonesia mencapai 0,41 pada 2011, memburuk dari 0,38 pada 2010. Konglomerasi semakin merajalela, ketimpangan antardaerah, antarwilayah, dan antargolongan cenderung meningkat.
Sesungguhnya, tak satu pun amanat konstitusi kita yang mewajibkan untuk menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, tetapi mengutamakan pemerataan dan keadilan. Bukankah perintah “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa” harus diartikan sebagai kebersamaan, bukan untuk segolongan masyarakat?
Wajib Tegakkan Keadilan
Dalam aspek politik kita melihat demokrasi dengan sistem pemilihan yang bebas dinodai oleh politik transaksional. Kondisi ini mengakibatkan pemimpin yang terpilih belum tentu adalah putra terbaik bangsa, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin saat ini banyak diragukan. Mereka melihat betapa banyak pejabat publik menjadi tersangka, terdakwa, bahkan terhukum dalam kasus korupsi dan penyuapan. Harus ada rekonstruksi politik yang lebih baik untuk lebih menjamin proses pemilihan yang melahirkan pemimpin yang terbaik.
Dalam suratnya kepada Bishop Mandell Creighton, 1887, Lord Acton menuliskan “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”. Dengan demikian, kuncinya adalah transparansi, akuntabilitas, dan penegakan hukum yang kuat. Namun apa lacur, penegak hukum belum memenuhi harapan. Ingat kasus rekening gendut para petinggi Polri dan transfer uang yang mencurigakan seperti dilaporkan PPATK? Kasus-kasus besar seperti Bank Century dan Hambalang dikhawatirkan lenyap begitu saja.
Kita juga perlu mempertimbangkan untuk meredefinisi ulang politik luar negeri kita agar lebih efektif dalam memperjuangkan dan menjaga kepentingan nasional. Bukankah seharusnya kebijakan politik luar negeri semata-mata ditujukan untuk pencapaian kepentingan bangsa? Kalau demikian, mengapa pilar utama politik luar negeri kita lebih didasarkan pada kepentingan regional dan internasional, bukan kepentingan nasional?
Selama 40 tahun terakhir, ASEAN selalu menjadi sokoguru politik luar negeri Indonesia, terutama karena Indonesia adalah salah satu pendiri dan pemrakarsa ASEAN. Karena itu, ASEAN seharusnya merupakan instrumen politik luar negeri Indonesia karena dianggap mampu menyelesaikan permasalahan regional, bahkan internasional.
Kenyataannya, forum-forum ASEAN tidak mampu menyelesaikan masalah antarnegara anggota, bahkan kecenderungannya adalah Indonesia banyak mengalahkan prinsip dan kepentingan nasionalnya sendiri demi keutuhan ASEAN. Ketegangan di Laut China Selatan yang kembali memanas akhir-akhir ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa ASEAN memang tidak berdaya.
Kembalikan Indonesiaku
Dalam aspek persatuan, kita masih melihat adanya gangguan separatisme di daerah. Ada pula kesenjangan antardaerah, antargolongan, serta antara pusat dan daerah. Bentrokan antargolongan masih terjadi, terutama dengan adanya kelompok-kelompok anarkis yang melakukan tindakan kekerasan dan teror terhadap masyarakat. Belum lagi peperangan antargeng dan antargolongan yang kembali merebak.
Gangguan terhadap kedaulatan wilayah kita masih terasa. Banyak intrusi yang dilakukan negara asing terhadap wilayah perairan dan perbatasan. Berkurangnya luas wilayah nasional akibat berpindahnya tapal batas wilayah kita di Kalimantan serta pelanggaran udara dan laut RI oleh pesawat udara dan kapal perang terutama kapal selam asing yang bahkan tidak pernah kita ketahui adanya, adalah contoh kurangnya kemampuan dan kekuatan laut dan udara kita dalam mengendalikan dan menjaga kedaulatan RI.
Lebih dari itu, bangsa Indonesia saat ini tercabut dari akarnya. Wawasan kebangsaan yang bersumber dari landasan Pancasila tidak lagi menjadi falsafah kehidupan. Bahkan, kita sudah tidak lagi paham landasan kebangsaan kita, yaitu kekeluargaan, musyawarah, dan mufakat karena batang tubuh konstitusi kita sudah disimpangkan dari Pembukaan UUD 45 yang merupakan sumber dari segala sumber hukum.
Kontemplasi dan perenungan ini sesungguhnya bukanlah untuk menyanggah segala keberhasilan, tetapi lebih sebagai upaya untuk menyadarkan kita semua bahwa masih sangat banyak kekurangan yang perlu kita perbaiki.
Pasti bukan kebetulan 17 Agustus 2012 yang akan kita rayakan beberapa hari lagi bertepatan jatuh pada hari Jumat bulan Ramadan 1433 H, persis sama dengan 17 Agustus 1945 yang juga jatuh pada hari Jumat bulan Ramadan 1364 H. Ini menjadi peringatan kepada kita semua untuk kembali berjuang, mengembalikan keindonesiaan kita dengan memperbaiki pola pikir, pola sikap, dan pola tindak. Indonesia harus kita kembalikan kepada haluannya yang benar, sesuai cita-cita pembentukannya, yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Mari kita kobarkan kembali rasa cinta tanah air, rela berkorban, rasa senasib sepenanggungan, semangat persatuan dan kesatuan, dan menjadikan kemajemukan kita sebagai kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika dan Merah Putih harus kembali kita junjung tinggi dan kita kibarkan. Dengan kata lain, mari kita kembalikan Indonesia. Dirgahayu Republik Indonesia ke-67, hiduplah Indonesia raya.
Rasanya, kekeliruan kita yang utama adalah menempatkan demokrasi sebagai tujuan, padahal itu hanya cara untuk mengejar cita-cita nasional. Akibatnya, politik kita jadikan panglima. Masih pula perlu kita pertanyakan kesesuaian sistem kenegaraan kita saat ini dengan falsafah Pancasila. Rasanya Pancasila sudah kita lupakan dan buang jauh-jauh dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Bagaimana tidak, setelah empat kali perubahan Undang-Undang Dasar 1945, kita justru menafikan golongan minoritas. Bila dahulu MPR masih menampung aspirasi kelompok minoritas dalam bentuk utusan golongan, sekarang hanya ada perwakilan rakyat yang dipilih mewakili partai dan mewakili daerah. Dikhawatirkan terjadi tirani mayoritas, hilangnya hak kaum minoritas.
Dalam aspek ekonomi, kita pertanyakan kedaulatan kita sebagai bangsa. Kita sudah melenceng dari amanat BAB XIV Pasal 33 UUD 1945 yang mengatur bahwa: perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan; cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kenyataannya justru banyak aset ekonomi dan strategik kita yang dikuasai asing semisal telekomunikasi, perbankan, pertambangan dan energi. Dalam hal pangan pun kita belum mampu berswasembada apalagi berdaulat.
Tengoklah di sektor perbankan, misalnya, penguasaan aset perbankan nasional oleh bank milik negara dan swasta nasional kian menyusut, digantikan penguasaan aset oleh bank milik asing yang meningkat tajam dan mendominasi. Kepemilikan asing di bank-bank tumbuh menjadi 21 persen di 2011. Aset bank swasta nasional yang dimiliki lokal terus merosot dari 42 persen di 1998 ke-22 persen pada 2011, sedangkan aset bank BUMN terus tergerus dari 44 persen pada 1998 menjadi 35 persen di 2011. Apabila ditotal dengan kantor cabang bank asing dan bank campuran, maka total pangsa pasar bank milik asing di Indonesia sudah mencapai 34 persen (Koran Jakarta, 26 Juli 2012).
Mari kita menyimak ayat 4 Pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”. Tapi apa kenyataannya?
Kita justru melihat tingkat kesenjangan yang semakin tinggi. Data Rasio Gini yang merupakan ukuran ketimpangan pendapatan Indonesia mencapai 0,41 pada 2011, memburuk dari 0,38 pada 2010. Konglomerasi semakin merajalela, ketimpangan antardaerah, antarwilayah, dan antargolongan cenderung meningkat.
Sesungguhnya, tak satu pun amanat konstitusi kita yang mewajibkan untuk menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, tetapi mengutamakan pemerataan dan keadilan. Bukankah perintah “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa” harus diartikan sebagai kebersamaan, bukan untuk segolongan masyarakat?
Wajib Tegakkan Keadilan
Dalam aspek politik kita melihat demokrasi dengan sistem pemilihan yang bebas dinodai oleh politik transaksional. Kondisi ini mengakibatkan pemimpin yang terpilih belum tentu adalah putra terbaik bangsa, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin saat ini banyak diragukan. Mereka melihat betapa banyak pejabat publik menjadi tersangka, terdakwa, bahkan terhukum dalam kasus korupsi dan penyuapan. Harus ada rekonstruksi politik yang lebih baik untuk lebih menjamin proses pemilihan yang melahirkan pemimpin yang terbaik.
Dalam suratnya kepada Bishop Mandell Creighton, 1887, Lord Acton menuliskan “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”. Dengan demikian, kuncinya adalah transparansi, akuntabilitas, dan penegakan hukum yang kuat. Namun apa lacur, penegak hukum belum memenuhi harapan. Ingat kasus rekening gendut para petinggi Polri dan transfer uang yang mencurigakan seperti dilaporkan PPATK? Kasus-kasus besar seperti Bank Century dan Hambalang dikhawatirkan lenyap begitu saja.
Kita juga perlu mempertimbangkan untuk meredefinisi ulang politik luar negeri kita agar lebih efektif dalam memperjuangkan dan menjaga kepentingan nasional. Bukankah seharusnya kebijakan politik luar negeri semata-mata ditujukan untuk pencapaian kepentingan bangsa? Kalau demikian, mengapa pilar utama politik luar negeri kita lebih didasarkan pada kepentingan regional dan internasional, bukan kepentingan nasional?
Selama 40 tahun terakhir, ASEAN selalu menjadi sokoguru politik luar negeri Indonesia, terutama karena Indonesia adalah salah satu pendiri dan pemrakarsa ASEAN. Karena itu, ASEAN seharusnya merupakan instrumen politik luar negeri Indonesia karena dianggap mampu menyelesaikan permasalahan regional, bahkan internasional.
Kenyataannya, forum-forum ASEAN tidak mampu menyelesaikan masalah antarnegara anggota, bahkan kecenderungannya adalah Indonesia banyak mengalahkan prinsip dan kepentingan nasionalnya sendiri demi keutuhan ASEAN. Ketegangan di Laut China Selatan yang kembali memanas akhir-akhir ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa ASEAN memang tidak berdaya.
Kembalikan Indonesiaku
Dalam aspek persatuan, kita masih melihat adanya gangguan separatisme di daerah. Ada pula kesenjangan antardaerah, antargolongan, serta antara pusat dan daerah. Bentrokan antargolongan masih terjadi, terutama dengan adanya kelompok-kelompok anarkis yang melakukan tindakan kekerasan dan teror terhadap masyarakat. Belum lagi peperangan antargeng dan antargolongan yang kembali merebak.
Gangguan terhadap kedaulatan wilayah kita masih terasa. Banyak intrusi yang dilakukan negara asing terhadap wilayah perairan dan perbatasan. Berkurangnya luas wilayah nasional akibat berpindahnya tapal batas wilayah kita di Kalimantan serta pelanggaran udara dan laut RI oleh pesawat udara dan kapal perang terutama kapal selam asing yang bahkan tidak pernah kita ketahui adanya, adalah contoh kurangnya kemampuan dan kekuatan laut dan udara kita dalam mengendalikan dan menjaga kedaulatan RI.
Lebih dari itu, bangsa Indonesia saat ini tercabut dari akarnya. Wawasan kebangsaan yang bersumber dari landasan Pancasila tidak lagi menjadi falsafah kehidupan. Bahkan, kita sudah tidak lagi paham landasan kebangsaan kita, yaitu kekeluargaan, musyawarah, dan mufakat karena batang tubuh konstitusi kita sudah disimpangkan dari Pembukaan UUD 45 yang merupakan sumber dari segala sumber hukum.
Kontemplasi dan perenungan ini sesungguhnya bukanlah untuk menyanggah segala keberhasilan, tetapi lebih sebagai upaya untuk menyadarkan kita semua bahwa masih sangat banyak kekurangan yang perlu kita perbaiki.
Pasti bukan kebetulan 17 Agustus 2012 yang akan kita rayakan beberapa hari lagi bertepatan jatuh pada hari Jumat bulan Ramadan 1433 H, persis sama dengan 17 Agustus 1945 yang juga jatuh pada hari Jumat bulan Ramadan 1364 H. Ini menjadi peringatan kepada kita semua untuk kembali berjuang, mengembalikan keindonesiaan kita dengan memperbaiki pola pikir, pola sikap, dan pola tindak. Indonesia harus kita kembalikan kepada haluannya yang benar, sesuai cita-cita pembentukannya, yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Mari kita kobarkan kembali rasa cinta tanah air, rela berkorban, rasa senasib sepenanggungan, semangat persatuan dan kesatuan, dan menjadikan kemajemukan kita sebagai kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika dan Merah Putih harus kembali kita junjung tinggi dan kita kibarkan. Dengan kata lain, mari kita kembalikan Indonesia. Dirgahayu Republik Indonesia ke-67, hiduplah Indonesia raya.
Mendiskripsikan Pahlawan Nasional Indonesia
Kapten Pierre Tendean merupakan salah satu korban pembunuhan
G30S-PKI yang juga mendapatkan gelar Pahlawan Revolusi Indonesia, saat itu
menjadi ajudan Jenderal AH. Nasution.
Pierre Andreas Tendean adalah seorang keturunan Menado. Di rumah A.H. Nasution beliau biasanya disapa dengan “Pierre”, bukan Tendean. Tendean sendiri adalah nama fam yang dipakainya– Tendean : Tempat berpijak. Beliau adalah putera dari DR. A.L Tendean yang berasal dari Minahasa, sedang ibunya seorang berdarah Perancis bernama Cornel ME.
Beliau lahir di Jakarta, 21 Februari 1939, dan beragama Protestan. Lulus dari SMA “B” dilanjutkan ke Akmil Jurtek AD. Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adiknya semua wanita, sehingga sebagai satu-satunya anak lelaki dialah tumpuan harapan orang tuanya.
Sesudah Pierre tamat dari SD di Magelang, meneruskan ke SMP bagian B dan kemudian ke SMA bagian B di Semarang. Setelah tamat dari SMA orang tuanya menganjurkan agar Pierre masuk Fakultas Kedokteran. Akan tetapi Pierre telah mempunyai pilihan sendiri, ingin masuk Akademi Militer Nasional, dan bercita-cita menjadi seorang perwira ABRI.
Pierre memasuki ATEKAD Angkatan ke VI di Bandung tahun 1958.
Tahun 1959 ketika sebagai Kopral Taruna, beliau juga ikut dalam operasi Sapta Marga di Sumatera Utara. Beliau dilantik sebagai Letda Czi tahun 1962. Setelah mengalami tugas, antara lain sebagai Danton Yon Zipur 2/Dam II Bukit Barisan, dan mengikuti Pendidikan Intelijen tahun 1963 serta pernah menyusup ke Malaysia masa Dwikora sewaktu bertugas di DIPIAD, maka pada tahun 1965 diangkat sebagai Ajudan Menko Hankam/Kasab Jenderal TNI A.H. Nasution ketika pangkatnya masih Letda, kemudian naik menjadi Lettu.
Dalam jabatan sebagai Ajudan Jenderal TNI A.H. Nasution inilah Pierre Tendean gugur, ketika G 30 S/PKI berusaha untuk menculik/membunuh Jenderal TNI A.H. Nasution.
Di saat gerombolan G 30 S/PKI ingin menculik Pak Nas pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, Pierre yang saat itu sedang tidur di paviliun rumah Pak Nas, segera bangun, karena mendengar kegaduhan di rumah pak Nas. Ketika ia keluar ia sudah menjinjing senjata, namun ia ditangkap oleh gerombolan penculik yaitu oleh Pratu Idris dan Jahurup. Pierre disangka sebagai Pak Nas. Kemudian dia diikat kedua tangannya dan dibawa dengan truk ke Lubang Buaya. Waktu itu gerombolan menyangka bahwa Pak Nas berhasil ditangkap hidup-hidup.
Ketika interogasi di Lubang Buaya, ternyata gerombolan G30S/PKI telah “salah tangkap”. Pierre yang dikira sebagai Pak Nas, akhirnya dieksekusi pada giliran terakhir. Ini mungkin karena beliau dianggap bukan orang yg diprioristaskan untuk dieksekusi. Sebelumnya, para perwira telah terlebih dahulu dieksekusi. Salah satu sumber fakta ini adalah dari posisi mayat PA. Tendean yg terletak paling atas di dalam Sumur Lubang Buaya, ketika proses evakuasi jenazah para Pahlawan Revolusi. Yang pertama dimasukkan adalah jenazah Brigjend Pandjaitan, kemudian Letjend. A. Yani, Mayjend. M.T. Haryono, Brigjend. Sutoyo, Mayjend. Suprapto yang diikat bersama-sama dengan Mayjend. Siswondo Parman. Terakhir adalah Jenazah Lettu P.A. Tendean.
Seluruh jenazah dianugerahkan pangkat Anumerta, yaitu gelar kenaikan pangkat satu tingkat yang diberikan kepada seseorang yang meninggal dunia akibat suatu peristiwa yang berhubungan dengan bela negara, atau mengangkat dan mengharumkan nama bangsa. Biasanya gelar ini lazim diberikan kepada seseorang dalam jabatan militer tapi tidak menutup kemungkinan diberikan juga kepada pegawai negeri sipil yang meninggal dunia dalam melaksanakan tugasnya.
Maka pangkat/gelar PA. Tendean menjadi KAPTEN CZI Anumerta.
Beliau dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Mendeskripsikan Tokoh Wayang Indonesia
Wayang merupakan salah satu kesenian tradisional daerah Jawa, baik Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat. Kata “wayang” mirip dengan kata “bayang” atau bayangan. Ini berkaitan erat dengan cara pertunjukan yang menampilkan bayangan dari sosok boneka yang dimainkan. Ada yang berpendapat bahwa dengan menonton wayang, orang sebenarnya mengkaji bayangan hidup manusia yang tercermin pada lakon wayang.
Wayang di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah menggunakan bahan dari kulit, sedangkan di daerah Jawa Barat ada yang menggunakan bahan kulit, ada juga yang menggunakan bahan dari kayu. Wayang yang menggunakan bahan dari kayu dinamakan wayang golek. Ada juga wayang yang mirip sandiwara biasa, karena diperankan oleh manusia, dan dinamakan wayang orang. Wayang kulit umumnya mengambil cerita dari Mahabharata atau Ramayana. Cerita wayang dibawakan oleh seorang Dalang.
Bahasa yang digunakan sesuai dengan bahasa daerah masing-masing. Misalnya di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur pertunjukan wayang kulit menggunakan bahasa Jawa, di daerah Sunda wayang golek purwa menggunakan bahasa Sunda, atau di Cirebon wayang golek papak menggunakan bahasa Cirebon. Setiap pertunjukan wayang selalu diiringi dengan gamelan. Gamelannya pun berbeda untuk daerah Jawa Tengah/Timur dan daerah Jawa Barat/Sunda.
Mendeskripsikan Bunga
Lambang Provinsi Jawa Barat
Provinsi jawa Barat dibentuk
pertamakali tanggal 14 Agustus berdasarkan penetapan Pemerintah Hindia Belanda
melalui staatblad 1924 Nomor : 378 tanggal 14 Agustus 1926, pada masa pra kemerdekaan
dan pada tanggal 19 Agustus 1945 berdasarkan penetapan Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) membagi kembali Daerah Negara Republik Indonesia
menjadi delapan provinsi yang salah satunya Provinsi Jawa Barat. Pembentukan
Provinsi Jawa barat ini kemudian ditetapkan kembali oleh Undang-undang Nomor 11
tahun 1950. Kemudian berdasarkan Peraturan Daerah No 26 Tahun 2010 bahwa
tanggal 19 Agustus 1945 ditetapkan sebagai Hari Jadi Provinsi Jawa Barat.
Provinsi Jawa Barat, secara
geografis, terletak pada posisi 5o50’ – 7o50’ Lintang Selatan dan 104o48’ –
108o48’ Bujur Timur, dengan batas wilayah : sebelah Utara, berbatasan dengan
Laut Jawa dan Provinsi DKI Jakarta; sebelah Timur, berbatasan dengan Provinsi
Jawa Tengah; sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia; dan sebelah
Barat berbatasan dengan Provinsi Banten.
Luas wilayah Provinsi Jawa Barat
meliputi wilayah daratan seluas 3.710.061,32 hektar dan garis pantai sepanjang
755,829 km. Daratan Jawa Barat dapat dibedakan atas wilayah pegunungan curam
(9,5% dari total luas wilayah Jawa Barat) terletak di bagian Selatan dengan
ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut (dpl); wilayah lereng
bukit yang landai (36,48%) terletak di bagian Tengah dengan ketinggian 10 –
1.500 m dpl; dan wilayah dataran luas (54,03%) terletak di bagian Utara dengan
ketinggian 0 – 10 m dpl. Tutupan lahan terluas di Jawa Barat berupa kebun
campuran (22,89 % dari luas wilayah Jawa Barat), sawah (20,27%), dan perkebunan
(17,41%), sementara hutan primer dan hutan sekunder di Jawa Barat hanya 15,93%
dari seluruh luas wilayah Jawa Barat.
Iklim di Jawa Barat yaitu tropis,
dengan suhu rata-rata berkisar antara17,4 – 30,7°C dan kelembaban udara antara
73–84%. Data BMKG menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2008, turun hujan selama
1-26 hari setiap bulannya dengan curah hujan antara 3,6 hingga 332,8 mm.
Jawa Barat dialiri 40 sungai dengan
wilayah seluas 32.075,15 km2. Jawa Barat juga memiliki 1.267waduk/situdengan
potensi air permukaan lebih dari 10.000juta m3.Air permukaan tersebut
dimanfaatkan untuk kebutuhan industri, pertanian, dan air minum.Terdapat
peningkatan jumlah perusahaan yang aktif memanfaatkan air permukaan menjadi 625
perusahaan dari 606 perusahaan pada tahun 2007.
Secara administratif, Provinsi Jawa
Barat terdiri dari 17 kabupaten dan 9 kota; 520 kecamatan; 5.245 desa dan 626
kelurahan.
Lambang Jawa Barat secara
keseluruhan adalah sebuah perisai berbentuk bulat telur dengan hiasan pita di
bagian bawahnya yang berisikan motto Jawa Barat. Kemudian di tengahnya ada
gambar senjata khas dari Jawa Barat yaitu sebuah kujang.
Makna bentuk dan motif
yang terdapat dalam lambang ini ialah :
- Bentuk bulat telur pada lambang Jawa Barat berasal dari bentuk perisai sebagai penjagaan diri.
- Ditengah-tengah terlihat ada sebilah kujang. Kujang ini adalah senjata suku bangsa Sunda yang merupakan penduduk asli Jawa Barat. Lima lubang pada kujang melambangkan dasar negara Indonesia yaitu Garuda Pancasila.
- Padi satu tangkai yang terdapat di sisi sebelah kiri melambangkan bahan makanan pokok masyarakat Jawa Barat sekaligus juga melambangkan kesuburan pangan, dan jumlah padi 17 menggambarkan tanggal Proklamasi Republik Indonesia.
- Kapas satu tangkai yang berada di sebelah kanan melambangkan kesuburan sandang, dan 8 kuntum bunga menggambarkan bulan proklamasi Republik Indonesia.
- Gunung yang terdapat di bawah padi dan kapas melambangkan bahwa daerah Jawa Barat terdiri atas daerah pegunungan.
- Sungai dan terusan yang terdapat di bawah gunung sebelah kiri melambangkan di Jawa Barat banyak terdapat sungai dan saluran air yang sangat berguna untuk pertanian.
- Petak-petak yang terdapat di bawah gunung sebelah kanan melambangkan banyaknya pesawahan dan perkebunan. Masyarakat Jawa Barat umumnya hidup mengandalkan kesuburan tanahnya yang diolah menjadi lahan pertanian.
- Dam atau bendungan yang terdapat di tengah-tengah bagian bawah antara gambar sungai dan petak, melambangkan kegiatan di bidang irigasi yang merupakan salah satu perhatian pokok mengingat Jawa Barat merupakan daerah agraris. Hal ini juga melambangkan dam-dam yang berada di Jawa Barat seperti Waduk Jatiluhur.
Arti warna
Pada lambang Jawa Barat didapati
beberapa warna yaitu: hijau, kuning, hitam, biru,
merah dan putih.
Warna-warna ini memiliki arti khusus.
Warna hijau
artinya melambangkan kesuburan dan kemakmuran tanah Jawa Barat. Kuning artinya melambangkan keagungan, kemuliaan
dan kekayaan. Hitam artinya melambangkan keteguhan dan keabadian. Biru artinya melambangkan ketentraman atau kedamaian.
Merah artinya melambangkan keberanian. Putih artinya melambangkan kemurnian, kesucian atau
kejujuran.
Motto Jawa Barat
Motto Jawa Barat
Gemah Ripah Repeh Rapih, yang
merupakan sebuah frasa berasal dari bahasa Sunda. Kata gemah-ripah dan
repeh-rapih merupakan kata majemuk yang mempunyai arti sebagai berikut :
Gemah-ripah : subur makmur, cukup
sandang dan pangan.
Repeh-rapih : rukun dan damai atau
aman sentosa.
Arti bebas dari motto daerah Jawa
Barat secara keseluruhan ialah menyatakan bahwa Jawa Barat merupakan daerah
yang kaya raya dan subur makmur serta didiami oleh banyak penduduk yang hidup
rukun dan damai.
Sumber : wikipedia.org dan lain-lain
1. http://cnoeng.blogspot.com/2013/04/macam-macam-operating-system.html
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Microsoft_Windows
3. http://id.wikipedia.org/wiki/DOS
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Oracle_Solaris
5. http://id.wikipedia.org/wiki/Linux
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Microsoft_Windows
3. http://id.wikipedia.org/wiki/DOS
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Oracle_Solaris
5. http://id.wikipedia.org/wiki/Linux
Langganan:
Postingan (Atom)